BAB II
PEMBAHASAN
A.
Fakta
Bani Israil
Fakta besar yang terjadi pada
abad ini yakni terealisasinya nubuwwat kembalinya Bani Israel
ke bumi al-Quds dalam keadaan bercampur-baur.
Takdir mengenai Bani Israel
membentuk garis lintasan sejarah yang panjang dan berliku-liku. Dari periode
pertama di masa para nabi dan rasul hingga periode akhir, ketika mereka kembali
ke “tanah yang dijanjikan” (ini menurut mereka). Takdir ini akan dipungkasi
dengan kehancuran mereka.
Dan kita, Allah takdirkan untuk
menjadi penyaksi sejarah proses kehancuran akhir zaman mereka itu, yang diawali
dengan kembalinya mereka ke Yerusalem dalam keadaan bercampur baur seperti
sekarang. Fakta ini tidak pernah terjadi dalam sejarah mereka melainkan saat
ini.
Fakta besar kedua adalah mengenai
musuh Bani Israel. Kalau Bani Israel diibaratkan virus perusak umat manusia,
maka fakta kedua ini ibarat vaksin yang akan melumpuhkan mereka. Dan
lagi-lagi, kita, umat Islam yang hidup di akhir zaman ini, Allah takdirkan
untuk menjadi penyaksi sejarah, bahkan ambil bagian dalam merealisasikannya.
Fakta besar ketiga ini adalah tegaknya KHILAFAH.
Allah mempunyai takdir tersendiri
mengenai perjalanan kekhilafahan, sebagaimana Ia juga membentangkan takdir
mengenai perjalanan panjang Bani Israel. Perbedaannya adalah kalau Kekhilafahan
diakhiri dengan takdir kemunculannya, maka Bani Israel dipungkasi dengan takdir
kehancurannya.
B.
Fase
Khilafah
Blueprint takdir kekhilafahan
Allah tuangkan dalam sebuah nubuwwat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam,
berikut ini:
تَكُونُ
النُّبُوَّةُ فِيكُمْ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا
شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ
فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اللَّهُ
أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا عَاضًّا فَيَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ
يَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا
جَبْرِيَّةً فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا
شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ
ثُمَّ سَكَتَ
”Adalah masa Kenabian itu
ada di tengah tengah kamu sekalian, adanya atas kehendaki Allah, kemudian
Allah mengangkatnya apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian adalah
masa Khilafah yang menempuh jejak
kenabian (Khilafah ‘Ala Minhajin Nubuwwah),
adanya atas kehendak Allah. Kemudian Allah mengangkatnya (menghentikannya)
apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian adalah masa Kerajaan
yang menggigit (Mulkan ‘Adldlon), adanya atas kehendak
Allah. Kemudian Allah mengangkatnya apabila Ia menghendaki untuk
mengangkatnya. Kemudian adalah masa Kerajaan
yang menyombong (Mulkan Jabariyyah), adanya atas kehendak
Allah. Kemudian Allah mengangkatnya, apabila Ia menghendaki untuk
mengangkatnya. Kemudian adalah masa Khilafah
yang menempuh jejak Kenabian (Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah).”
Kemudian beliau (Nabi) diam.” (HR. Ahmad dari Nu’man bin
Basyir, Dari Hudzaifah Ibnul Yaman, Musnad Ahmad:IV/273, Al-Baihaqi,
Misykatul Mashobih hal 461. Lafadz Ahmad. Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani
dalam Ash-Shahihah no. 5).
Hadits di atas menunjukkan bahwa
fase sejarah kehidupan kaum muslimin dimulai dari masa kenabian (sejak
dibi’tsahnya beliau menjadi Rasul hingga wafat), kemudian dilanjutkan dengan
masa Khilafah ‘Ala Minhaajinnubuwwah atau kekhilafahan yang
mengikuti jejak kenabian Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam yang
dimulai sejak dibai’atnya khalifah pertama, Abu Bakar Ash Shiddiq sampai
wafatnya kholifah keempat, Ali bin Abi Tholib radhiyallahu ‘anhum.
Empat khalifah yang
memimpin selama tiga puluh tahun tersebut diberi gelar oleh Rasulullah
Shallallahu Alaihi Wasallam sebagai Khulafaurrasyidin Al Mahdiyyin, para
khalifah yang benar dan diberi petunjuk. Beliau juga perintahkan agar sunnah
para Khalifah teladan tersebut dipegang sekuat tenaga oleh kaum Muslimin
di kemudian hari.
Dari Abu Najih Al-’Irbadh bin
Sariyah radhiyallahu ‘anhu, berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Alihi
Wasallam tengah menasehati kami dengan sebuah nasehat yang membuat gemetar
hati-hati kami dan meneteskan air mata kami, maka kami katakan: “Wahai
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Alihi Wasallam seakan-akan ini sebuah nasehat
perpisahan, maka nasehatilah kami. Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wa Alihi Wasallam
berkata:
اُوْصِيْكُمْ
بِتَقْوَى اللهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَاِنْ كَانَ عَبْدًا حَبَشِيًّا
فَاِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ يَرَى بَعْدِي اخْتِلَافًا كَثِيْرًا فَعَلَيْكُمْ
بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ وَ عَضُّوا
عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَ مُحْدَثَاتِ الْأُمُورَ فَاِنَّ كُلَّ
مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَاِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ
“Aku wasiatkan agar
kalian bertaqwa kepada Allah, dan mendengar dan taat sekalipun yang
memimpinmu adalah seorang budak Habsyi, karena orang yang hidup diantara kamu
di kemudian hari setelahku akan melihat perselisihan yang banyak. Oleh
karena itu, hendaklah kamu berpegang teguh pada
sunnahku dan sunnah Khulafaurrasyidin almahdiyyin (para
khalifah yang mendapat petunjuk yang benar). Hendaklah kamu pegang teguh
dengannya dan gigitlah dengan gigi gerahammu. Jauhilah perkara-perkara yang
baru yang diada-adakan, karena sesungguhnya semua perkara yang diada-adakan itu
bid’ah dan semua bid’ah itu sesat.” (HR.
Ahmad, Abu Dawud dan At Tarmizi).[1]
Dari Said bin Jumhan dari Safinah
berkata: “Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam
telah bersabda:
الْخِلاَفَةُ
فِي أُمَّتِي ثَلاَثُونَ سَنَةً ثُمَّ مُلْكٌ بَعْدَ ذَلِكَ ثُمَّ قَالَ لِي
سَفِينَةُ أَمْسِكْ خِلاَفَةَ أَبِي بَكْرٍ ثُمَّ قَالَ وَخِلاَفَةَ عُمَرَ
وَخِلاَفَةَ عُثْمَانَ ثُمَّ قَالَ لِي أَمْسِكْ خِلاَفَةَ عَلِيٍّ قَالَ
فَوَجَدْنَاهَا ثَلاَثِينَ سَنَةً قَالَ سَعِيدٌ فَقُلْتُ لَهُ إِنَّ بَنِي
أُمَيَّةَ يَزْعُمُونَ أَنَّ الْخِلاَفَةَ فِيهِمْ قَالَ كَذَبُوا بَنُو
الزَّرْقَاءِ بَلْ هُمْ مُلُوكٌ مِنْ شَرِّ الْمُلُوكِ
“Masa khilafah pada
ummatku itu tiga puluh tahun kemudian setelah itu masa kerajaan. Kemudian
Safinah berkata kepadaku: peganglah kekhalifahan Abu Bakar, kekhalifahan Umar,
kekhali fahan Utsman dan kekhalifahan Ali. Maka aku dapatinya masa kekhalifahan
itu tiga puluh tahun, Said berkata: “Saya bertanya kepadanya, sesungguhnya Bani
Umayyah mengaku bahwa masa kekhalifahan itu ada pada mereka.” Ia berkata: “Banu
Zurqo telah berdusta bahkan mereka itu para raja dari seburuk-buruk
raja.” (HR.At Tirmidzi, dan Abu
Dawud).[2]
Meskipun hanya berlangsung selama
30 tahun (ini sebenarnya fase yang singkat untuk ukuran rentang sejarah)
namun masa kepemimpinan mereka penuh dengan dinamika dan kecemerlangan sejarah,
sehingga menjadi tolok ukur untuk periode-periode berikutnya. Setelah
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam hanya merekalah yang mendapat
legitimasi untuk diambil sunnahnya dijadikan panutan, bahkan beliau
memerintahkan agar berpegang teguh terhadapnya.
C, Khilafah
Ala Minhhaajinnubuwwah akan terulang dua kali,
sedangkan khulafaurrasyidin
al mahdiyyin hanya satu kali dalam lintasan sejarah. Namun yang satu
kali itu untuk menjadi patokan terhadap segala bentuk kepemimpinan pada era
berikutnya, apakah tergolong mengikuti sunnah Rasulullah dan Khulafaurrasyidin
atau tidak. Dan pada kenyataannya kaum muslimin pun menggunakan berbagai pola
kepemimpinan yang tercerabut dari sunnah 4 kholifah tersebut. Bahkan hal itu
telah dimulai dari periode awal.
Selanjutnya dimulailah era baru
dalam Islam, yakni fase mulkan (Mulkan ‘Adhdhon kemudian dilanjutkan
Mulkan Jabariyyah) dengan diawali oleh Bani Umayyah. Kondisi fitnah yang
menimpa tubuh umat Islam tidak pernah pupus terus bertambah buruk, meskipun
tidak dipungkiri perkembangannya juga meningkat tajam. Berbagai wilayah
di belahan dunia timur hingga barat, tunduk dalam Islam, sembari luka
perpecahan internal yang terus menganga hingga sampailah suatu masa, umat Islam
terpuruk dalam kubangan yang sangat dalam.
Periode kepemimpinan Mulkan
dipungkasi dengan dihapuskannya sistem “Kekhilafahan” Turki Utsmani pada
3 Maret 1924 oleh Mustafa Kemal Pahsya. Ini sekaligus menjadi tanda bahwa akan
wujud fase berikutnya (sebagaimana yang disebutkan dalam nubuwwat Rasulullah
pada Hadits Nu’man bin Basyir di atas).
Fase berikutnya yang Allah akan
takdirkan kemunculannya adalah kembalinya Khilafah ‘Ala
Minhaajinnubuwwah. Kemunculannya ini adalah sesuatu yang menakjubkan,
diimpikan sekaligus menakutkan.
Menakjubkan, karena ia muncul
ketika kaum muslimin dalam kancah perpecahan yang tidak pernah terjadi
sebelumnya. Jika kita bentangkan status perselisihan kaum muslimin sehingga ia
membentuk garis panjang yang pangkalnya diawali dengan syahidnya Khalifah
Utsman sampai ujungnya saat ini maka kondisi yang paling memprihatinkan adalah
ketika tumbangnya simbol kekhilafahan (baca: Mulkan) Turki Utsmani pada tahun
1924 sampai masa kini. Kaum muslimin benar-benar seperti ayam kehilangan induk,
mereka terpecah menjadi ratusan negara, ratusan/ribuan organisasi, partai dan
kelompok, berbagai mazhab, dan golongan-golongan lainnya tanpa ada rujukan
untuk kembali.
Kondisi ini tidak pernah terjadi
melainkan saat ini (pasca Turki Utsmani). Pada masa sebelumnya, jika pun ada
letusan-letusan fitnah namun keberadaan simbol kekhilafahan berperan sebagai
sentralisasi kaum muslimin, sehingga mampu menjaga keutuhan kaum muslimin dan
melindunginya dari serangan pihak-pihak luar. Itulah sebabnya, dalam kondisi
puncaknya perselisihan dan perpecahan ini, kembalinya wadah Khilafah
‘Ala Minhaajinnubuwwah di tengah-tengah kaum muslimin hampir tidak
bisa dipercaya, jika kita hanya mengandalkan logika untuk mengimaninya.
Namun, masyaa Allahu kaan wama lam yasya lam yakun, apa yang Allah
kehendaki pasti terjadi dan apa-apa yang tidak Dia kehendaki tidak akan
terjadi. Dan menurut hadits Nu’man bin Basyir tersebut, bahwa Rasulullah
Shallallahu Alaihi Wasallam nyatakan pasca Mulkan Jabariyyah (yakni
tumbangnya Turki Utsmani) maka:
ثُمَّ
تَكُونُ خِلَافَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ
“…..Kemudian adalah
masa Khilafah yang menempuh jejak
Kenabian (Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah).”
Diimpikan, tentu saja, oleh kaum
Muslimin dari pelbagai pelosok dunia. Mereka sudah jenuh dengan pola-pola
sistem kemasayarakatan produk akal manusia yang tidak pernah bisa memberikan
solusi terbaik. Kesenjangan sosial semakin menganga. Orang-orang kelaparan dan
terlantar hanya menjadi berita, menghiasi media-media. Ironis, ketika dunia
semakin dieksplorasi untuk dikuras kekayaannya, kian banyak teriakan-teriakan
orang kelaparan bahkan mati karenanya. Peperangan, pembunuhan, dan berbagai
tindak kezaliman serta kebrutalan, terus berlangsung tanpa ujung. Inilah hasil
dunia yang dirancang oleh manusia-manusia yang meneriakkan dirinya moderen dan
beradab, semboyannya demokrasi, kendaraannya perdamaian dunia dan semangat hak
asasi manusia.
Dalam kondisi seperti ini,
terlebih lagi bagi kaum muslimin yang berada di daerah merah pada garda
terdepan menghadapi moncong-moncong senjata kaum kuffar wal musyrikin, Khilafah
Ala Minhaajinnubuwwah benar-benar diidam-idamkan. Mereka sangat paham,
dulu keberadaan Khilafah menjadi tameng bagi kaum Muslimin terhadap serangan
dari luar dan pengkeroposan dari dalam.
Muslimin jaya dengan Khalifah.
Aqidahnya kuat, ukhuwwahnya solid dan akhlaknya tetap mulia. Siapa yang tidak
ingin untuk kembali memiliki marwah? Agar ada pembelaan disaat kehormatan kaum
muslimin dilecehkan sampai pada titik nadir? Adakah yang tidak menginginkan
itu?
Menakutkan, bagi musuh-musuh
Islam. Konspirasi menumbangkan
kekhilafahan adalah kerja keras jangka panjang mereka.
Sejak masa Khulafaurrasyidin dulu mereka telah kasak-kusuk
berupaya dengan segala cara menumbangkan fondasi kekuatan kaum muslimin ini.
Munculnya figur Abdullah bin Saba kala
itu, hingga sosok Mustafa Kamal adalah
bukti nyata bahwa mereka tidak pernah berhenti. Sampailah pada masa kini, jerih
payah mereka itu pun berbuah, simbol terakhir kekhilafahan tumbang.
Turki secara resmi menghapus
sistem kekhilafahan dan menjadikannya Republik. Yahudi –sebagai representasi
musuh-musuh Allah- bersorak kegirangan. Mereka merasa telah memenangkan
pertempuran jangka panjang yang berlangsung 14 abad, dan melucuti seluruh
kekuatan Muslimin. Lantas bagaimana mungkin mereka merasa aman jika ternyata
hal yang mereka paling takuti itu akan muncul kembali?
Sebenarnya masalah kemunculan
kekhilafahan adalah janji Allah dalam Al Quran, surah Annur ayat 55.
Selengkapnya berbunyi:
وَعَدَ
اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ
لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ
وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ
مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا ۚ
وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
Artinya: “Dan Allah telah
berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan
amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa
dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka
berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah
diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka,
sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap
menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan
barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah
orang-orang yang fasik.”
Menurut Ibnu Katsir ayat ini
mengandung janji Allah kepada Rasul-Nya bahwa Dia akan menjadikan umat Muhammad
penguasa di atas bumi, pemimpin umat manusia seluruhnya dan akan menukar
keadaan mereka sesudah berada dalam kedaan lemah, diremehkan orang dan ditindas
menjadi kuat, disegani orang serta ditakuti dan sesudah berada dalam keadaan
ketakutan dikejar-kejar musuh menjadi keadaan aman sentosa dan berwibawa.
Janji Allah ini telah menjadi kenyataan
tidak lama sebelum Rasulullah wafat dengan dibebaskannya kota Makkah, Khaibar,
Bahrain, Yaman dan seluruh Jazirah Arab. Pembayaran jizyah dilakukan oleh
Majusi Hajar dan sebagian penduduk Syam, beliau juga menerima hadiah sebagai
tanda bersahabat dari Hercules Raja Romawi, Penguasa Mesir, Al-Muqauqis
penguasa Iskandariah juga dari Raja Oman dan Raja Abesinia. Setelah beliau
wafat penyebaran Islam dilanjutkan oleh para Khalifah, sampai pada masa Utsman
daerah yang tunduk dalam naungan Islam hampir meliputi bagian terbesar
benua Asia dan Afrika serta tidak ketinggalan beberapa kota dan daerah di benua
Eropa.[3]
Ibnu Katsir juga menukil QS.
Al-Qashash ayat 5 sebagai berikut:
وَنُرِيدُ
أَنْ نَمُنَّ عَلَى الَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا فِي الْأَرْضِ وَنَجْعَلَهُمْ
أَئِمَّةً وَنَجْعَلَهُمُ الْوَارِثِينَ
Artinya: “Dan Kami hendak memberi
karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu dan hendak
menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi
(bumi)”.
Kekuasaan Islam terus meluas pada
masa Mulkan hingga ke jantung Kerajaan Romawi kala itu dengan tumbangnya
Bizantium pada masa Turki Utsmani (Sultan Muhammad Al Fatih), juga
berkembangnya Bani Umayyah di Kordova (Eropa), termasuk juga penyebaran
keislaman di tanah Tiongkok yang sangat berperan menumbangkan ketiranian
Dinasti Yuan (Penguasa Mongol).[4]
Ayat 55 pada QS. Annur di atas,
tidak hanya membatasi dinamika dakwah dan eksistensi kepemimpinan kaum Muslimin
sebatas masa Rasulullah dan Khulafaurrasyidin, namun menjadi janji Allah kepada
kaum Mu’minin yang beramal sholih (kapan pun masa mereka) akan menjadikan
mereka kholifah dimuka bumi, meneguhkan dienul Islam, dan menukar kondisi
ketakutan mereka menjadi aman sentausa.
Hadits Nu’man bin Bashir yang
sedang kita bahas ini pun merupakan penafsiran dari ayat ini, merincikannya
tahap demi tahap dengan ditutup kembali terwujudnya anugerah kekhilafahan
bagi kaum Muslimin, setelah terputus dalam jangka waktu yang sangat
panjang dengan berlangsungnya era Kerajaan (Mulkan).
Dalam ayat lain, yang juga
menggunakan kata istikhlaf, terdapat pada surah Al A’raf:129,
قَالُوا
أُوذِينَا مِنْ قَبْلِ أَنْ تَأْتِيَنَا وَمِنْ بَعْدِ مَا جِئْتَنَا ۚ قَالَ
عَسَىٰ رَبُّكُمْ أَنْ يُهْلِكَ عَدُوَّكُمْ وَيَسْتَخْلِفَكُمْ فِي الْأَرْضِ
فَيَنْظُرَ كَيْفَ تَعْمَلُونَ
Kaum Musa berkata: “Kami telah
ditindas (oleh Fir’aun) sebelum kamu datang kepada kami dan sesudah kamu
datang. Musa menjawab: “Mudah-mudahan Allah membinasakan musuhmu dan menjadikan
kamu khalifah di bumi-(Nya), maka Allah akan melihat bagaimana perbuatanmu.(P004/P4).
D. Kehancuran dan kekalahan
Yahudi adalah sebuah keniscayaan yang telah tertulis dalam takdir sejarah
mereka.
Kezaliman dan kepongahan yang mereka tunjukkan
saat ini kepada dunia hanya semakin menjustifikasi bahwa mereka pantas untuk
mendapatkan hukuman. Toh, dalam sejarah umat manusia tidak ada kaum zalim, yang
Allah biarkan berpetualang dalam kezaliman mereka. Semakin memuncak kezaliman
mereka, kian dahsyat hukuman yang akan mereka terima.
وَكَمْ أَهْلَكْنَا مِنْ قَرْيَةٍ بَطِرَتْ مَعِيشَتَهَا ۖ
فَتِلْكَ مَسَاكِنُهُمْ لَمْ تُسْكَنْ مِنْ بَعْدِهِمْ إِلَّا قَلِيلًا ۖ وَكُنَّا
نَحْنُ الْوَارِثِينَ
Dan tidaklah Tuhanmu
membinasakan kota-kota, sebelum Dia mengutus di ibukota itu seorang rasul yang
membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka; dan tidak pernah (pula) Kami
membinasakan kota-kota; kecuali penduduknya dalam keadaan melakukan kezaliman. (QS. Al-Qashash: 59).
Berikut ini adalah hal-hal yang
semestinya dihayati dan diamalkan untuk merealisasikan janji kemenangan
terhadap kezaliman Yahudi. Allah telah memberi pelajaran
pada masa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dahulu, ketika persatuan
dan kesatuan umat Islam hampir diceraiberaikan oleh seorang tokoh Yahudi (Syash
bin Qeis). Kemudian Allah menurunkan
ayat-Nya, sehingga kaum Muslimin kembali solid dan fitnah Yahudi terbongkar.
Peristiwa tersebut berhubungan dengan ayat Al-Quran, surah Ali
Imran:103:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ
وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ
بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَىٰ
شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ
اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
“Dan berpegang teguhlah kamu
kepada tali (dien) Allah seraya berjama’ah dan janganlah
berpecah belah, dan ingatlah akan ni’mat Allah
kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyyah) bermusuh-musuhan, maka Allah
menjinakkan antara hati-hatimu, lalu menjadilah kamu karena ni’mat Allah
orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka,
lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan
ayat-ayat Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk”.
Menurut riwayat Muhammad bin
Ishaq bin Yasar, sebagaimana yang dikutip oleh Ibnu Katsier, ayat tersebut
turun sehubungan dengan peristiwa, seorang tokoh Yahudi yang merasa tidak
senang terhadap persahabatan antara suku Aus dan Khazraj. Padahal dahulunya
sebelum mereka mengenal Islam saling bermusuhan. Lantas ia mengutus seorang
yang pandai menyebarkan fitnah untuk menyusup diantara Bani Aus dan Khazraj.
Kemudian sang ‘provokator’ pun bereaksi,
dengan mengingatkan kembali pada peperangan Bu’ats,
klimaks perseteruan mereka masa jahiliyyah dahulu. Hampir berhasil. Hampir
terjadi peperangan antara Aus dan Khazraj, bahkan sudah menentukan lokasi
pertempuran, di suatu tempat bernama Al Harrah. Namun hal itu bisa
dicegah oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. “Apakah
dengan slogan-slogan dan isu-isu jahiliyyah sedang aku masih berada di tengah
kamu?”, setelah bersabda demikian Beliau lantas membacakan ayat tersebut.
Insiden tersebut hanya sebuah
‘paragraf’ kecil dari catatan panjang tarikh Rasulullah beserta
para sahabat. Mengenai kebencian Yahudi terhadap umat Islam dan kepiawaiannya
dalam memecah belah persatuan kaum Muslimin. Namun tidak berkutik ketika menghadapi
umat Islam yang solid, hidup terpimpin dalam naungan Jama’ah Muslimin dan taat
kepada pimpinan.
Ternyata strategi konspirasi dan
pecah belah seperti insiden di atas, senantiasa menjadi senjata andalan Yahudi
di kemudian hari. Tersebutlah kemudian sosok Yahudi yang pura-pura masuk
Islam, Abdullah bin Saba. Ia kasak-kusuk pada masa Ali bin Abi Thalib. Upayanya berhasil
memecah belah umat Islam, karena bersamaan dengan penyakit tidak taat terhadap
Khalifah yang menjalar dalam tubuh umat Islam kala itu. Peristiwa ini menjadi
salah satu mata rantai penyebab terlepasnya sistem Khilafah
Ala Min Hajinnubuwwah dari kaum Muslimin yang kemudian diganti
dengan sistem Mulkan.
Fitnah Yahudi berlanjut. Tokoh
Zionis Internasional, Theodore Herzl, melanglang buana ke seluruh dunia menggalang kekuatan untuk
merintis negara Israel Raya. Konspirasi tingkat dunia semakin mencengkeram
dalam, dan dimulailah suatu babak baru untuk memindahkan orang-orang Yahudi
dari seluruh dunia ke negeri Palestina. Protokol Zionis menjadi acuan mereka,
strategi pecah belah tetap merupakan andalan utama dalam menguasai dunia.
E . Kehancuran dan kekalahan Yahudi adalah
sebuah keniscayaan yang telah tertulis dalam takdir sejarah mereka.
Kapan kiamat akan terjadi?
Tidak
ada yang tau waktu terjadinya kiamat kecuali Allah Taala, bahkan Malaikat
Jibril dan Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wassalam tidak
diberitahu oleh Allah Ta’ala akan waktu terjadinya hari
Kiamat.
Berbicara
tentang kiamat yang merupakan perubahan besar pada alam semesta dan perjalanan
menuju alam akhirat, surga dan neraka. Adalah berbicara tentang urusan ghaib
yang kita tidak mengetahuinya. Dan sama halnya ketika berbicara tentang waktu
dan tanda akhir zaman, kita katakan telah datang waktunya kiamat artinya kiamat
sudah waktunya akan terjadi.
Bicara
tentang akhir zaman adalah bicara tentang urusan ghaib yang Allah Ta’ala dan
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam tidak menyebutkan waktu
terjadinya, tapi hanya memberitahukan tanda-tandanya. Di antara tanda-tanda
akhir zaman atau yang dikenal tanda-tanda dekatnya waktu kiamat adalah
munculnya Imam Mahdi.
Rasulullah Shalallahu
‘alaihi wassalam memberitahu kita tentang kemunculan Imam Mahdi dengan
dua perkara:
1.
Keadaan dan kejadian dunia serta umat manusia pada saat kemunculan Imam Mahdi,
seperti hilangnya keadilan, merajalelanya kezaliman dan perselihan dalam
merebut kekuasaan.
2.
Sifat Imam Mahdi sebagai seorang pribadi yang dipilih oleh Allah Ta’ala sebagai
pemimpin umat Islam di akhir zaman, dimana dia merupakan keturunan Nabi dengan
nama Muhammad bin Abdillah, dia tidak mengaku sebagai Imam Mahdi, tapi
orang-orang yang membaiat dirinya.
Dari
memahami dua hal ini kita bisa mengetahui benar atau tidaknya pernyataan
sebagian orang bahwa Imam Mahdi telah lahir.
Rasulullah Shalallahu
‘alaihi wassalam bersabda:
لَوْ
لَمْ يَبْقَ مِنْ الدُّنْيَا إِلَّا يَوْمٌ لَطَوَّلَ اللَّهُ ذَلِكَ الْيَوْمَ
حَتَّى يَبْعَثَ فِيهِ رجل مِنْ أَهْلِ بَيْتِي يُوَاطِئُ اسْمُهُ اسْمِي وَاسْمُ
أَبِيهِ اسْمُ أَبِي يَمْلَأُ الارض قِسْطًا وَعَدْلًا كَمَا مُلِئَتْ ظُلْمًا
وَجَوْرًا
“Andaikan
dunia tinggal sehari lagi, Allah Taala akan panjangkan hari tersebut sehingga
diutus padanya seorang lelaki dari ahli baitku (keturunanku) namanya serupa
namaku dan nama ayahnya serupa nama ayahku (Muhammad bin Abdillah). Ia
akan penuhi bumi dengan kejujuran dan keadilan sebagaimana sebelumnya dipenuhi
dengan kezaliman dan penindasaan.” (HR Abu Dawud, No 9435, dan
dishohihkan oleh al Albani, Shohih al Jami’ as Shoghir, No 5304).
Rasulullah Shalallahu
‘alaihi wassalam menjelaskan keadaan dunia sebelum munculnya Imam
Mahdi, bahwa kehidupan manusia diatas permukaan bumi “dipenuhi kezaliman dan
penindasaan”, kita perhatikan kata (مُلِئَتْ)
artinya dipenuhi. Kezaliman dann ketidakadilan merata di bumi, bukan hanya
terjadi pada sebagian wilayah, adapun wilayah yang lain baik-baik saja.
Ketika
sebagian orang melihat kekerasan, kezaliman, pembantaian di sebagian negara,
seperti di Suria, Iraq dan Myanmar; mereka akan berteriak bahwa zaman kehadiran
Imam Mahdi telah tiba. Mereka lupa melihat bagian bumi yang lain yang baik-baik
saja, atau pura-pura tidak paham arti kata “dipenuhi”?!
Imam
Mahdi akan memimpin umat Islam selama tujuh sampai sembilan tahun, dan pada
masa itu akan muncul Dajjal dan turunnya Nabi Isa ‘Alaihissalam.
Ketika kita berbicara tentang Imam Mahdi, pada masanya ada Dajjal dan Nabi
Isa ‘Alaihissalam, artinya kita berbicara tentang ketiganya. Sudah
lama kita mendengar tentang Imam Mahdi, kenapa Dajjal nya belum muncul-muncul?
Salah
satu yang jelas menunjukkan kesalahan prediksi sebagian orang bahwa masa kita
adalah masa akhir zaman; dengan dalih tentang sabda Nabi Muhammad Shalallahu
‘alaihi wassalam yang menjelaskan bahwa salah satu tanda akhir zaman
adalah adanya perubahan di Jazirah Arabiyah, yaitu kerajaan Saudi dan sekitarnya
yang akan menjadi padang rumput yang hijau, dan sungai-sungai mengalirkan air.
Dan
sekarang Anda lihat lewat jendela pesawat saat berada diatas wilayah Saudi,
jika belum ada kesempatan atau mendapat panggilan Allah ta’ala untuk berhaji
atau Umrah, cobalah sempatkan waktu melihat petanya Paman Google, apakah
padang-padang pasir Saudi telah berubah menjadi padang rumput yang hijau?
Apakah sungainya sudah dipenuhi beningnya air yang mengalir?
Permasalahan
yang terjadi pada sebagian orang adalah terlalu tergesa-gesa dalam menyimpulkan
waktu kemunculan Imam Mahdi, tanpa melihat dalil-dalil tentang Imam Mahdi
secara keseluruhan yang untuh, dan kurangnya memperhatikan detail-detail
masalahnya.
Dari
sebagian dalil yang disebutkan diatas, kita bisa memahami bahwa zaman kita ini,
bukan zaman kelahiran Imam Mahdi, karena belum terpenuhinya seluruh sifat-sifat
atau keadaan yang disebutkan oleh Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi
wassalam.
F .
bagaimana cara kita mengetahui Imam Mahdi?
Caranya
adalah dengan mengikuti para ulama-ulama, sederhananya jika MUI, majelis ulama
Saudi Arabia, ulama-ulama al Azhar Mesir dan ulama-ulama dunia Islam lainnya
mengatakan bahwa Si Fulan adalah Imam Mahdi, baru kita katakan dia adalah Imam
Mahdi.
Kenapa
demikian? Karena permasalahan Imam Mahdi adalah permasalahan tanzil
(menurunkan/membumikan) dalil-dalil pada orang tertentu dan keadaan tertentu,
dan itu hanya bisa dilakukan ulama karena masuk dalam Bab Ijtihad, yaitu
menentukan hukum terhadap suatu masalah.
Dan
tidak cukup dengan seruan atau kehebohan satu atau dua orang yang mengatakan
diri sebagai seorang Dai, karena Imam Mahdi akan menjadi pemimpin seluruh kaum
muslimin dan seluruh kaum muslimin akan sepakat menerimanya; artinya para
ulama-ulama sepakat bahwa dia adalah Imam Mahdi yang disebutkan sifatnya di
dalam hadits-hadits Nabi. Wallahu a’lam.
DAFTAR PUSTKA
MINANEWS.NET
Uray Helwan Rusli, Penulis
Buku Khilafah vs Yahudi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar